Alkisah sebuah desa, hidup seorang laki-laki paruh baya yang sehari-harinya bekerja di ladang dan beternak domba. Ia tinggal sebatang kara di sebuah gubuk yang terletak di pinggir jalan ujung desa. Ia sudah hidup sendirian selama beberapa tahun belakangan karena istrinya telah meninggal.
Diceritakan desa dimana ia tinggal merupakan desa yang sering kali dilanda oleh kemarau panjang sehingga cukup sulit untuk mendapatkan air. Apabila kemarau datang, maka satu-satunya sumber air yang bisa didapat oleh masyarakat desa hanyalah dari mata air di kaki gunung yang letaknya ada di utara desa dan jaraknya cukup jauh. Dan sekarang adalah kemarau.
Seperti masyarakat desa lainnya, setiap hari lelaki ini harus pergi ke mata air untuk mengambil air guna kebutuhan sehari-hari, baik itu untuk kebutuhan diri sendiri maupun untuk kebutuhan ladang dan ternak. Setiap pagi lelaki paruh baya ini berangkat menyusuri jalan desa dengan berbekalkan tongkat dan dua tempayan untuk menampung air yang nanti dibawanya dari mata air. Ia menggunakan tongkat untuk memanggul air dalam tempayan yang diikatkan dimasing-masing sisi ujung tongkat.
Dua tempayan dan tongkatnya sudah terlihat tua dan lusuh karena sudah sangat lama tidak diganti dengan yang baru, bahkan salah satu dari tempayannya sudah retak. Tempayan yang retak itu memang sudah seharusnya diganti dengan tempayan yang baru karena tempayan retak itu tidak bisa lagi maksimal membawa air yang ia dibawa, tempayan itu selalu meneteskan air di sepanjang perjalanan pulang dari sumber air sampai rumah, sehingga hanya menyisakan setengah dari yang semula dibawa. Tapi entah apa yang ada dibenak lelaki paruh baya ini, ia tidak pernah mencoba untuk mengganti tempayan retak itu dengan yang baru, malah ia terlihat sangat menyayangi sekali tempayan retaknya itu, ia selalu saja tersenyum tiap kali memperhatikan tempayan retak miliknya.
Suatu hari, seperti biasa lelaki paruh baya ini berangkat untuk mengambil air di sumber air dan saat itu pula tempayan yang retak tadi masih saja meneteskan air sedikit demi sedikit di sepanjang perjalanan. Saat sampai dirumah, seperti biasa, tempayan itu meneteskan setengah dari yang seharusnya tempayan itu tampung. Lalu tempayan itu berbicara pada lelaki parah baya tersebut.
"Tempayan retak: [dengan nada sedih] Orangtua, maafkan aku. Aku tak lagi bisa memberikan yang terbaik untukmu."
"Lelaki paruh baya: Tidak masalah, Tempayanku. Walaupun saat ini kau selalu meneteskan separuh air dalam dirimu, setidaknya kau masih bisa membawa yang separuhnya lagi."
"Tempayan retak: [dengan sedikit heran] Mengapa kau tak ganti saja diriku dengan tempayan yang baru?"
"Lelaki paruh baya: Oh tentu tidak, tempayanku. Aku masih senang bekerja dengan dirimu. [lalu tersenyum]"
"Tempayan retak: Tapi lihatlah, aku selalu saja hanya bisa membawa separuh air dari yang seharusnya aku bawa. Tidakkah kau rugi dengan itu?"
"Lelaki paruh baya: Aku tidak pernah merasa rugi bekerja dengan mu, mengapa kau berpendapat seperti itu?"
"Tempayan retak: Aku malu dengan dirimu, aku tidak seperti tempayanmu yang satu lagi. Dia bisa membawa dengan baik air yang kau ambil dari sumber air, sedangkan aku hanya bisa memberikan setengah dari yang kau isikan kepadaku."
"Lelaki paruh baya: Apakah kau merasa sudah tidak berarti dan tak lagi berguna?"
"Tempayan retak: Ya, karena aku sudah retak. Aku tak lagi pantas mendampingimu mengambil air ke kaki gunung itu."
Melihat tempayannya sedih, maka lelaki paruh baya itu membawa tempayannya dan berjalan ke arah jalanan dimana jalan yang biasa dilaluinya untuk berangkat dan pulang mengambil air.
"Lelaki paruh baya: Sekarang coba kau lihatlah jalan arah utara, jalan menuju kaki bukit. Lihatlah sepanjang jalan itu. Lalu lihatlah dikedua sisi pinggir jalan tersebut. Lihatlah apa terjadi disana."
"Tempayan retak: [melihat kearah jalanan dan menatap jauh ke utara] Tidak terjadi apapun disana. Setiap hari aku melihat pemandangan itu dan menurutku tidak ada yang istimewa ataupun aneh."
"Lelaki paruh baya: Lihatlah kedua sisi pinggir jalan tersebut. Satu sisi jalan itu gersang dan mati, namun coba lihat diastu sisi lainnya, ditumbuhi oleh bunga-bunga yang cantik dan rerumputan yang hijau yang terus membentang menuju utara. Indah bukan? Tidakkah kau heran mengapa mereka bisa tetap hidup di desa kita yang kering ini? Sadarkah dirimu kalau kehidupan dari semua bunga dan rerumputan itu tergantung pada dirimu? Tiap siang, mereka menunggu kehadiranmu dari kaki gunung, dari sumber air. Setiap hari kau selalu meneteskan nikmat kepada mereka, sehingga mereka bisa bertahan hidup. Kau adalah harapan bagi mereka. Tuhan telah memilih dirimu untuk menyampaikan berkahNya kepada bunga dan rerumputan itu. Setelah melihat itu semua, masihkah kau merasa tidak berguna dan tak memiliki arti di dunia ini?"
Tempayan itu lalu tersenyum.
demon search engine
Loading
Selasa, 09 Juni 2009
Kamis, 02 April 2009
Demonimisme-Buddhist

mengapa di dalam tempurung otak manusia hanya ada ambisi? obsesi? keinginan? nafsu?
mengapa manusia tidak pernah lelah mengejar hasrat?
mengapa manusia terus dibayang-bayangi oleh tujuan yang membuatnya terus berlari?
manusia selalu kecewa apabila yang diinginkan (harta, wanita, tahta, ilmu; yang se asli nya hanya kebagiaan dunia) tidak dapat capai. manusia selalu dikecewakan oleh dirinya sendiri akibat hasrat yang tak tercapai yang sesungguhnya hasrat itu diciptakan oleh manusia itu sendiri yang dikarenakan selalu berangan-angan. hal ini sering membuat manusia lelah, putus asa, kering semangat, bunuh diri. mereka terus berlari, tak pernah berhenti walau hanya sejenak untuk berfikir dan sadar apa yang sebenarnya mereka lakukan adalah sesuatu yang menyedihkan. Manusia hanya mengejar suatu tujuan yang sesungguhnya adalah kosong. terus terdorong untuk masuk kedalam jurang hasrat tanpa esensi. nirwana dan kesempurnaan tidak ada di situ kawan..
apakah kita masih memiliki ambisi apabila tak ada hasrat?
apakah hasrat masih tercipta apabila tujuan, keinginan, dan nafsu tak pernah ada?
obsesi anjing!!! obsesi bangsat!!! obsesi terkutuk!!!! mungkinkah itu semua pernah terucap apabila dari awal kita tahu semua ini hanyalah sesosok hantu tak nyata??
kita semua tahu jawabannya.

*segala isi yang adalah di dunia ini adalah hampa, maka bebaskanlah dirimu dari segala hasrat, dari sana kau akan merasa memiliki segalanya, karena isi adalah kosong, kosong adalah isi.
demon
_djatinangor100309
Buah Bibir dari Saritem
Malam itu pukul 22.30, (sebut saja) Aki dan kawan-kawan pergi ke 7 sins, suatu tempat makan di kota Bandung. Mereka pergi untuk merayakan hari ulang taun Aki dan seorang lagi kawannya yang bernama Gendut (yang juga bukan nama sebenarnya). Di sana Aki dan Gendut mentraktir semua kawan-kawannya. Makan, minum, nge bir sepuasnya semua ditanggung oleh Aki dan Gendut. Di tempat itu kebetulan ada sepasang artis muda (yang juga tidak bisa aku sebutkan namanya) yang sedang bercumbu dan bermesraan. Melihat pasangan artis yang sedang bercumbu itu sepertinya membuat hasrat seks mereka naik dan akhirnya sebagian dari mereka memutuskan untuk pergi ke tempat lokalisasi di Saritem, tentunya selepas makan, minum, dan nge bir sepuasnya. Namun setelah berembuk beberapa kali, akhirnya semua dari mereka berangkat ke daerah lokalisasi itu. Sebelumnya mereka pergi ke Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika untuk berfoto-foto. Total jumlah dari mereka ada 15 orang. Semua terdiri dari laki-laki.
Mereka sampai di tempat lokalisasi Saritem sekitar pukul 02.00, mereka semua berkeliling dari satu gang ke gang lainnya, dari satu rumah ke rumah lainnya. 15 orang dari mereka, hanya 4 orang yang akhirnya berlabuh ke atas kasur (ngehaw coy..), termasuk Aki dan Gendut, mungkin mereka berdua benar-benar ingin bersenang-senang dihari ualng tahunnya. Sedangkan kawan-kawan lainnya menunggu di mobil.
Singkat cerita, saat di dalam rumah lokalisasi itu Aki tidur bersama seorang PSK bernama Sofhi. Sofhi adalah satu dari puluhan PSK yang ada di daerah lokalisasi Saritem.
Saat di dalam kamar, Aki sempat berbincang-bincang dengan Sofhi.
[di dalam kamar]
Aki : Kamu asli Bandung ya?
Sofhi : Iya, kok kamu tau sih? Kliatan ya dari cara ngomong aku?
Aki : Iya. Ehmm.. Kamu udah punya suami?
Sofhi : Belom.
Aki : Punya pacar?
Sofhi : Iya punya pacar.
Aki : Yaudah bayangin aja kalo aku ini pacar kamu.
Dan selanjutnya mereka 'melakukan' semuanya di atas ranjang empuk itu sambil kadang kala berbincang-bincang. Sepertinya Sofhi adalah seorang gadis PSK yang terbilang cukup ramah. Setelah dengan itu semua, mereka berdua segera membersihkan diri.
Sofhi : kamu abis minum-minum ya?
Aki : Iya tadi sama temen-temen. Kenapa bau ya?
Sofhi : Iya, bau minuman.
Aki : Aku abis minum-minum sama temen-temen aku, tadi tuh abis ngerayain hari ulang taun aku.
Sofhi : Oh.. hari ini kamu ulang taun..
Aki : Iya hari ini aku ulang taun lho.
Sofhi : Happy birthday yah..
Aki : Makasih..
Sofhi : Ulang taun yang ke berapa?
Aki : 21.
Sofhi : Loh.. sama dong ama aku.
Mereka pun terus berbincang dan sesekali melepas canda tawa. Usai bebersih di kamar mandi, mereka berdua kembali ke ranjang, duduk dan berpakaian sambil berbincang-bincang lagi.
Aki : Pacar kamu gak tau kalo kamu kerja disini?
Sofhi : (dengan nada yang rendah sambil merapikan pakaian) Dia nggak tau, aku bilang ke dia kalo aku kerja di Jakarta.
Aki : Oh..
Mereka sudah selesai berpakaian dan berkemas, namun seperti ada yang menahan Aki untuk tetap disitu, terduduk di pinggir ranjang di samping Sofhi, sejenak coba untuk diam dan mendengar.
Sofhi : Iya gitu. Ehmm.. aku udah tunangan lho (sambil tersenyum ke arah Aki dan memperlihatkan cincin tunangan yang ada di jari manisnya)
Aki : Oh.. kamu udah tunangan toh..
Sofhi : (matanya kedepan, menatap dengan kosong, seperti sedang membayangkan seseorang) Dia itu polisi.
Aki : Tunangan kamu polisi? Trus kamu ga takut apa kalo suatu saat nanti tiba-tiba dia dateng nge razia tempat ini?
Sofhi : (dengan sedikit menundukkan kepala) Ya itu udah jadi resiko aku kerja disini.
Aki : Hmmm gituu.. kamu hari ini kerja dari jam berapa? (sambil menatap wajah Sofhi)
Sofhi : Dari siang. Kenapa emang? (lalu menengok ke arah Aki). Aku keliatan capek banget yah? (masih dengan senyum sederhananya)
Aki : Abis ini kamu kerja lagi?
Sofhi : Iya.
Mereka pun terdiam sejenak. Tak lama kemudian mereka keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk keluar dari rumah tersebut. Karena rumah itu berada di dalam gang yang bercabang-cabang dan sempit, Aki sempat bingung saat keluar rumah, dia tidak tahu kemana arah untuk kembali ke mobil.
[di gang di depan rumah itu]
Sofhi : Kenapa? Bingung ya keluarnya lewat mana?
Aki : Iya aku bingung.. Keluar gang nya lewat mana ya?
Sofhi lalu memberi tahu arah jalan pada Aki.
Aki : Makasih ya.. Daa..
Sofhi : Iya sama-sama (masih dengan senyumnya yang amat sederhana)
Lalu Aki berjalan menyusuri jalan yang telah ditunjukkan oleh Sofhi. Aki berjalan pelan dengan langkah yang sedikit ngacak sebab alkohol masih mempengaruhi otaknya, setidaknya sampai besok pagi. Langkah Aki di lorong gang diiringi dengan senyum Sofhi yang sederhana namun menyimpan jutaan makna. Saat itu Sofhi langsung berlalu bersamaan dengan angin tipis yang dingin yang berhembus di kota Bandung, malam itu.
_demon
020409djatinangor
11.48
Mereka sampai di tempat lokalisasi Saritem sekitar pukul 02.00, mereka semua berkeliling dari satu gang ke gang lainnya, dari satu rumah ke rumah lainnya. 15 orang dari mereka, hanya 4 orang yang akhirnya berlabuh ke atas kasur (ngehaw coy..), termasuk Aki dan Gendut, mungkin mereka berdua benar-benar ingin bersenang-senang dihari ualng tahunnya. Sedangkan kawan-kawan lainnya menunggu di mobil.
Singkat cerita, saat di dalam rumah lokalisasi itu Aki tidur bersama seorang PSK bernama Sofhi. Sofhi adalah satu dari puluhan PSK yang ada di daerah lokalisasi Saritem.
Saat di dalam kamar, Aki sempat berbincang-bincang dengan Sofhi.
[di dalam kamar]
Aki : Kamu asli Bandung ya?
Sofhi : Iya, kok kamu tau sih? Kliatan ya dari cara ngomong aku?
Aki : Iya. Ehmm.. Kamu udah punya suami?
Sofhi : Belom.
Aki : Punya pacar?
Sofhi : Iya punya pacar.
Aki : Yaudah bayangin aja kalo aku ini pacar kamu.
Dan selanjutnya mereka 'melakukan' semuanya di atas ranjang empuk itu sambil kadang kala berbincang-bincang. Sepertinya Sofhi adalah seorang gadis PSK yang terbilang cukup ramah. Setelah dengan itu semua, mereka berdua segera membersihkan diri.
Sofhi : kamu abis minum-minum ya?
Aki : Iya tadi sama temen-temen. Kenapa bau ya?
Sofhi : Iya, bau minuman.
Aki : Aku abis minum-minum sama temen-temen aku, tadi tuh abis ngerayain hari ulang taun aku.
Sofhi : Oh.. hari ini kamu ulang taun..
Aki : Iya hari ini aku ulang taun lho.
Sofhi : Happy birthday yah..
Aki : Makasih..
Sofhi : Ulang taun yang ke berapa?
Aki : 21.
Sofhi : Loh.. sama dong ama aku.
Mereka pun terus berbincang dan sesekali melepas canda tawa. Usai bebersih di kamar mandi, mereka berdua kembali ke ranjang, duduk dan berpakaian sambil berbincang-bincang lagi.
Aki : Pacar kamu gak tau kalo kamu kerja disini?
Sofhi : (dengan nada yang rendah sambil merapikan pakaian) Dia nggak tau, aku bilang ke dia kalo aku kerja di Jakarta.
Aki : Oh..
Mereka sudah selesai berpakaian dan berkemas, namun seperti ada yang menahan Aki untuk tetap disitu, terduduk di pinggir ranjang di samping Sofhi, sejenak coba untuk diam dan mendengar.
Sofhi : Iya gitu. Ehmm.. aku udah tunangan lho (sambil tersenyum ke arah Aki dan memperlihatkan cincin tunangan yang ada di jari manisnya)
Aki : Oh.. kamu udah tunangan toh..
Sofhi : (matanya kedepan, menatap dengan kosong, seperti sedang membayangkan seseorang) Dia itu polisi.
Aki : Tunangan kamu polisi? Trus kamu ga takut apa kalo suatu saat nanti tiba-tiba dia dateng nge razia tempat ini?
Sofhi : (dengan sedikit menundukkan kepala) Ya itu udah jadi resiko aku kerja disini.
Aki : Hmmm gituu.. kamu hari ini kerja dari jam berapa? (sambil menatap wajah Sofhi)
Sofhi : Dari siang. Kenapa emang? (lalu menengok ke arah Aki). Aku keliatan capek banget yah? (masih dengan senyum sederhananya)
Aki : Abis ini kamu kerja lagi?
Sofhi : Iya.
Mereka pun terdiam sejenak. Tak lama kemudian mereka keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk keluar dari rumah tersebut. Karena rumah itu berada di dalam gang yang bercabang-cabang dan sempit, Aki sempat bingung saat keluar rumah, dia tidak tahu kemana arah untuk kembali ke mobil.[di gang di depan rumah itu]
Sofhi : Kenapa? Bingung ya keluarnya lewat mana?
Aki : Iya aku bingung.. Keluar gang nya lewat mana ya?
Sofhi lalu memberi tahu arah jalan pada Aki.
Aki : Makasih ya.. Daa..
Sofhi : Iya sama-sama (masih dengan senyumnya yang amat sederhana)
Lalu Aki berjalan menyusuri jalan yang telah ditunjukkan oleh Sofhi. Aki berjalan pelan dengan langkah yang sedikit ngacak sebab alkohol masih mempengaruhi otaknya, setidaknya sampai besok pagi. Langkah Aki di lorong gang diiringi dengan senyum Sofhi yang sederhana namun menyimpan jutaan makna. Saat itu Sofhi langsung berlalu bersamaan dengan angin tipis yang dingin yang berhembus di kota Bandung, malam itu.
_demon
020409djatinangor
11.48
Langganan:
Postingan (Atom)