demon search engine

Loading

Kamis, 08 Oktober 2009

Maria Sharapova


Maria Sharapova was born on April 19, 1987 in Nyagan, a town in the Siberian region of Russia. In 1989, the family moved to the Black Sea resort town of Sochi.

When she was 4 years old, a chance encounter changed her life. She met with the father of tennis champion Yevgeny Kafelnikov, and the man gave her a racket. From that moment, she started hitting tennis balls. The game soon became a passion for her.

Two years later, she was performing at a tennis clinic when another tennis champion changed her life. Martina Navratilova was in the building and she was flabbergasted by the talent of the 6-year-old. She went to her father, Yuri, and recommended that he take his daughter to the world-famous Bollettieri Tennis Academy in Florida.

sharapova moves to america
Soon after, this same advice was repeated by the head coach of the Russian Federation. Everyone agreed it was the best thing to do in light of Maria’s enormous talent. When she was only 7, Yuri took his daughter to the U.S. without knowing a word of English and with less than $1,000 in his pocket.

IMG, the sports management company, agreed to sponsor Maria and put up the $35,000 US per year it costs to stay at the Bollettieri Academy. Not knowing any English either, she was very shy and introverted.

While her father took odd jobs, Maria moved into the school dorm when she was 9. Sharing a room with three older girls, she quickly learned the language. Still, it was hard on her, especially since her mother, Yelena, remained in Russia because she couldn’t get the proper visa.

Two years later, her mother was finally able to come to Florida and be reunited with her daughter and husband. From that moment, she took it upon herself to educate Maria, who has never been in a formal school in her life.

maria’s smash hit
Her official tennis career began in 2001, when she joined the junior circuit. During that year, she won 25 matches and only lost three. In the process, she came away with three titles: Sacramento, Hilton Head and Pilsen in the Czech Republic.

The following season, Sharapova did even better on the junior circuit with 26 victories and, again, only three losses. She once more won three titles: Vancouver, Peachtree and Gunma in Japan. The same year, she was allowed to play a limited number of matches on the professional tour.

She won one match and lost two, including one against Monica Seles in the second round at Indian Wells, her first professional tournament. After all the results were tabulated, she was ranked 186th on the WTA charts.


sharapova’s year

By 2003, Sharapova had paid her dues and was able to play in the big leagues. She joined the WTA Tour and impressed everyone with her talent. For that season, she came away with 34 wins and a negligible 11 losses.

Sharapova also won two professional titles: Quebec City and the Japan Open. She also won two doubles titles with Tamarine Tanasugarn: Luxembourg and the Japan Open. When the season was over, her ranking had improved to place her at number 32.

In 2004, she stunned Wimbledon audiences when she beat champion player Serena Williams, making Sharapova the first Russian to win a Wimbledon singles title and the third-youngest women’s champion in history.

sharapova hits the books
At present, she is putting an end to her high school education through Keystone High, an online high school. She does photo shoots once in a while but her priority is tennis. Besides, she doesn’t need the money, as she has very lucrative endorsement deals with Nike, NEC and Prince. Sharapova currently resides in Bradenton, Florida.

Senin, 05 Oktober 2009

Feuerbach dan Karl Marx

Feuerbach: Kepercayaan manusia akan Allah berdasarkan dari keinginan hati manusia. Karena manusia sendiri tidak merasa bahagia di dunia ini dan mengalami berbagai-berbagai kekurangan, lalu manusia mulai membayangkan di luar dirinya suatu Wujud yang sama sekali sempurna dan tak pernah kekurangan, yaitu Allah. Manusia menciptakan Allah menurut citranya sendiri.


Karl Marx: Agama adalah perealisasian manusia justru belum berhasil merealisasikan hakikatnya. Agama adalah tanda keterasingan manusai dari dirinya sendiri. Manusia yang membuat agama, bukan agama yang membuat manusia.


Agama hanyalah tanda keterasingan manusia tetapi bukan dasarnya. Keterasingan manusia adalah ungkapan keterasingan yang lebih mendalam. Agama hanyalah sebuah pelarian karena realitas memaksa manusia melarikan diri. ”Agama adalah realitas hakikat manusia dalam angan-angan kerena hakikat manusia tidak mempunyai realitas yang sungguh-sungguh. jadi, ”Agama sekaligus ungkapan penderitaan yang sungguh-sungguh dan protes terhadap penderitaan yang sungguh-sungguh. Agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu rakyat.

Rabu, 30 September 2009

tentara oh.. tentara


Dari kecil gw emang suka banget ama yang namanya film perang, film perang yang gw maksud itu film peperangan antar negara, kayak film kemerdekaan Indonesia, pokoknya yang ada tentaranya. Gw sangat tertarik dengan hal yang berbau tentara, mulai dari seragamnya, senjatanya, kendaraan-kendaraan tempurnya seperti tank, pesawat jet, kapal selam dan lain-lain. Mungkin dari situ juga gw mulai punya cita-cita jadi tentara, secara Pakde gw juga ada yang jadi tentara dan itu keren banget buat gw, sampe-sampe tuh gw make dompet tentara waktu gw masih SD, pokoknya gw terobsesi banget sama yang namanya tentara.
Semakin gede, semakin berumur, gw mulai mencari tau kenapa gw suka banget yang nama tentara/militer dan tentara/militer yang kayak gimana sih yang gw suka? dimata gw tentara itu gagah, pemberani, keren, dan pahlawan tentunya. saat SMP gw mulai membaca buku-buku tentang militer dan gw semakin terobsesi dengan militer. Gw mulai membaca tentang tokoh-tokoh militer dunia dan apa-apa aja yang udah mereka perbuat, mulai dari Stalin, Lenin, Napoleon, Che Guevara, Hitler dan masih banyak lagi.
Entah kenapa gw lebih suka tokoh-tokoh atau tentara-tentara dari negara yang berhaluan seperti komunis dan sosialis. kayak contohnya Hitler, gw nge-fans banget sama dia, mungkin karena gw menganggap mereka itu musuhnya Amerika dan dari kecil gw benci sama Amerika (walaupun gw akui tentaranya keren-keren senjatanya), gak tau juga ya.
Semakin gede gw, semakin gede pula rasa gw untuk jadi tentara, sampai akhirnya pas lulus SMA gw ikut seleksi buat masuk Akademi Militer. Tapi mungkin Tuhan berkehendak lain dan gw gak di terima diseleksi itu. walaupun begitu, cinta gw terhadap militer itu gak pernah luntur, gw tetep selalu terpukau kalo lagi ada berita ataupun parade yang menunjukkan tentang kemiliteran.
Gw salut sama Hitler dan NAZI (tentaranya) yang bisa melumpuhkan satu negara (Polandia) hanya dalam waktu 3 hari dan hampir saja menguasai seluruh Eropa. Gw kagum sama Stalin dan Red Army (tentaranya) yang bisa nahan serangan NAZI Jerman, bahkan mukul balik sampai akhirnya menang. Tapi gw prihatin sama TNI yang pesawatnya jatuh terus, yang kapal perangnya tenggelem mulu, yang tank-tank seumuran kakek gw.
Kok bisa ya? Indonesia katanya negara kaya, tapi alutsista nya lemah. Padahal kalo kita punya militer yang kuat, negara tetangga gak akan berani 'nyolek-nyolek' kita. yaaahh.. kalo kata gw sih dari pada buat beli laptop anggota DPR, mending uangnya buat beli peluru pesawat tempur kita, soalnya yang gw denger beberapa pesawat tempur Sukhoi kita belum ada pelurunya. Percuma aja punya pesawat tempur bagus, tapi gak ada pelurunya, kayak singa ompong, kadal juga berani kalo kayak gitu mah.
Tapi pemirsa jangan kecil hati dulu melihat alutsista kita, coba kita lihat tentara kita. Kabarnya, KOPASSUS dinobatkan menjadi pasukan elite yang menempati urutan ke tiga dunia setelah SAS (inggris) dan MOSSAD (israel). inilah sedikit fakta tentang KOPASSUS:
1. KOPASSUS memenangkan kejuaraan tembak sniper championship dengan menggunakan senjata buatan Indonesia.
2. KOPASSUS menduduki peringkat 2 dalam menjalankan operasi militer strategis seperti, intelijen, persiapan dan pergerakan, infiltrasi, dan penyerbuan. Peringkat pertama adalah DELTA force, USA.
3. 80% negara-negara di Afrika Utara pelatihnya dari KOPASSUS.
4. Pasukan Elite Kamboja sudah lama dilatih oleh KOPASSUS.

Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa tentara dari negara Paman Sam tidak masuk urutan, karena tentara Amerika Serikat dianggap terlalu bergantung dengan senjata dan teknologi, begitu katanya.
Jadi kita tidak boleh sedikit bangga pada tentara Indonesia, tapi harus sangat bangga, karena KOPASSUS menjadi salah satu yang terbaik di dunia, bahkan mengalahkan pasukan elite dari Amerika Serikat sekalipun. Nah, tinggal bapak-bapak dan ibu-ibu yang duduk di Senayan itu yang harus memperbaiki anggaran TNI. Jangan beli laptop terus dong Pak, sekali-kali beli kapal selem gitu, masak kapal selem nya cuma ada di Palembang (mpek-mpek Palempang).